Tampilkan postingan dengan label Questions of Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Questions of Life. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2013

PANGGIL SAYA, RETNO.



Saya dinamai Endah Retno Palupi. Kakek saya yang konon kabarnya memberikan nama itu, selain pilihan nama lain, Novi misalnya. Dan sampai sekarang ini semakin bervariasi interpretasi orang-orang tentang nama ini. Di antaranya yang paling mengejutkan adalah saat masih SMP dulu, teman satu regu JAMCAB ada yang nyeletuk, “Namamu Palupi, kupikir agamamu Budha.”

Dia bilang begitu saat tau saya ambil wudhu untuk sholat. Memang waktu itu saya belum mulai pakai jilbab. Jadi wajarlah dia tak langsung peka soal agama, karena simbol-simbol agama belum nempel. But hijab is not only a symbol, of course. That’s a faith J

Lalu ada lagi yang mengira Palupi itu semacam marga, name family... karena dia kenal orang atau beberapa orang yang namanya juga demikian. Pastinya! Saya tau banyak orang juga bernama Palupi, bahkan yang persis sama “Endah Retno Palupi” juga ada. Tapi bukan, Palupi di nama saya bukan marga. Tiga generasi di keluarga saya, hanya saya yang nama belakangnya itu, terlebih lagi... keluarga besar saya bukan yang termasuk menerapkan sistem patrilinier dengan mempertahankan nama belakang.

Yang kadang terjadi adalah... nama ini jadi semacam bahan lucu-lucuan di awal perkenalan, “Palupi apanya Pelupa?”, “Kalo cewek memang Lupi, kalo cowok pasti namanya Lupa.” Lalu muncul sapaan-sapaan semacam “Pal”, “Palu”
I’m fine with that. Kalau hanya sebagai pemecah suasana di tengah ketegangan perkenalan dan lebih memudahkan adaptasi. Yang kurang bisa kuterima adalah bila itu terjadi terus-terusan, apalagi kalau dipleset-plesetkan, apalagi ku dengar dari orang yang... “Siapa elo?” =_=a
Alasannya simpel, saya ga suka dipanggil dengan nama pleset-plesetan, saya ga suka nama dijadikan olok-olok. Kita juga sudah diajarkan untuk memanggil sebagaimana orang tersebut ingin dipanggil.

Sebagian yang lebih fair akan langsung menanyakan, apa artinya.

Ya! Saya memperkenalkan diri dengan nama lengkap saya, dengan nama panggilan Palupi, atau Upik. Dan untungnya belum saya temukan orang yang mengira saya orang Minang saat tau saya dipanggil Upik..hehe

Jarang saya minta dipanggil Endah, atau Retno. Karena bukan dengan nama itu saya besar. Bukan dengan nama itu saya terbiasa dipanggil. Walau pada awalnya saya jengah dengan nama Palupi, karena tidak umum, karena nama itu yang paling berat artinya...
Nama saya bukan menggambarkan saya Budha, bukan nama marga, bukan pelesetan dari alat pertukangan. Nama saya adalah nama Jawa, Jawa Kawi. Murni 100% Jawa, yang memberikan nama pun seorang Jawa tulen yang memegang Jawanya (sungkem kasembah kagem Eyang Kakung MS Setyodarmodjo). Dan inilah arti nama saya...

Endah
Artinya baik/sedap dipandang. Dalam bahasa Jawa ada padanan katanya bisa jadi Peni, Raras, Laras kalau putri. Kalau putra bisa jadi Bagus, Edi. Di bahasa Indonesia bisa diartikan Indah.

Retno
Adalah nama yang sering disematkan oleh orang Jawa untuk anak putri. Sama halnya seperti Ratna. Belakangan, saya baru tahu kalau artinya bisa berarti mata/penglihatan. Atau...ada juga yang menyebutkan artinya: intan, mutiara...simply...permata. Wow!! I don't suppose that valuable word was put on my name. I amazed.

Palupi
Artinya tuladha, contoh. Nih yang sempat membuat saya tak memperkenalkan nama panggilan “Palupi” : karena artinya! Serasa ada suatu yang harus saya contohkan lebih baik saat saya dipanggil dengan nama itu. Sebelum saya tau arti nama saya ini, saya merasa aneh sendiri dengan nama belakang saya itu. Ga umum, dan paling aneh di rangkaian nama ini. Maka saya memperkenalkan diri dengan “Upi” sebagaimana keluarga saya memaggil, atau “Lupi” seperti panggilan di lingkungan rumah terdekat, tetangga. Dalam perkembangannya dari SD teman-teman banyak menyapa dengan 2 pilihan nama itu, bertransformasi jadi “Upick” waktu SMP-SMA, lalu tiba-tiba huruf “C” hilang dari penulisannya saat kuliah, “Upik”

Intinya adalah, walaupun hanya sekedar nama, saya pribadi punya feel tersendiri terhadap nama belakang saya itu. Sampai saya sudah bisa menerimanya sebagai nama yang utuh, sebagai bentuk pengharapan bahwa saya bisa jadi contoh perempuan yang baik bagi sekitar. Harapa tinggi dan mulia sekali dari orang tua ke generasinya. Maka saya sudah terbiasa memperkenalkan diri dengan pedenya, “Palupi”. But, wait! Tidakkah harapan ini terlalu tinggi?

Lalu kembali tentang pengharapan itu. Ekspektasi.

Sebagaimana sejarah panjang lebarnya berbagai respon orang terhadap nama. Demikian juga respon dan persepsi orang tentang saya. Ini soal kepribadian, karakter, cara kerja, or apapun itu yang berhubungan dengan penilaian orang lain pada diri.

Tidak jarang saya jumpai orang-orang yang baru saya kenal langsung menggantungkan ekspektasi tinggi pada saya. Overexpect, overestimate. I don’t know why, I don’t know what the reasons. Yang pasti beberapa kali saya pernah terjebak pada posisi itu dan saya tidak serta merta sengaja bermaksud mengecewakan harapan mereka.

Lalu secara random, utak atik gathuk, kadang saya kembali menghubungkan dengan ekspektasi dalam nama saya. “Palupi” serasa berat kembali walau kini benar saya sudah menerimanya.

Maka izinkanlah saya dipanggil “Retno”. Satu-satunya kata yang netral dalam nama saya, tidak mensifatkan baik/buruk. Tidak mengandung ekspektasi atau tanggung jawab yang lebih. Hanya menggambarkan bahwa saya putri, saya perempuan Jawa. Yang semoga selalu terbukakan mata, dan sekuat intan permata. aamiin...

Panggil saya, Retno.

Sabtu, 27 April 2013

Means so something..

otak vs hati

sebenarnya gambar ini terlalu lebay
Hati tak semenderita itu
Otak tak sejahat itu
tapi ...
resiko jadi seorang INTJ adalah
Otak lebih sering menang dari Hati
*puk puk Hati
bukan berarti Hati di'anaktiri'kan
hanya saja memang Otak lebih tau yang lebih benar
 Otak tau yang benar, karena Hati telah mengajarkannya yang terbaik


*phy*


Jumat, 26 April 2013

MADRE



 
“Apa rasanya jika sejarah kita berubah dalam sehari?
Darah saya mendadak seperempat Tionghoa,
Nenek saya seorang penjual roti, dan dia,
Bersama kakek yang tidak saya kenal,
Mewariskan anggota keluarga baru yang tidak pernah saya tahu: Madre.”


Madre adalah buku kumpulan cerita Dee yang berisi 13 karya fiksi dan prosa pendek. Madre sendiri adalah satu judul cerita pendek dalam buku itu.

Madre,
Bercerita tentang pria pantai yang sebelumnya hidup dengan aturannya sendiri, dengan penghiburannya sendiri, dengan keinginannya sendiri yang hanya dia yang tahu. Tiba-tiba diberitahu bahwa moyangnya adalah tukang roti. Bahwa seperempat darahnya adalah Cina, yang berasal dari kakeknya itu yang baru dia kenal di saat kematiannya. Bukan sekedar tukang roti sebenarnya... lebih tepatnya, kakek-neneknya adalah pembuat sekaligus pemilik toko roti legendaris, kalau tak dibilang antik. Dan dia baru tahu itu semua, tiba-tiba, setelah diundangnya dia pada acara pemakaman seseorang yang ternyata kakeknya itu. Dan kakeknya itu mewariskannya anggota keluarga : Madre. Madre adalah sebutan untuk adonan biang roti yang dibuat neneknya yang menghidupi toko roti antik mati suri yang kini nasibnya juga ada di tangannya. Madre, berasal dari bahasa Spanyol, artinya: Ibu.
Cerita berlanjut dengan segala bumbu di dalamnya, yang diakhiri dengan indahnya. Pria pantai itu memutuskan menerima benarlah dirinya adalah generasi tukang roti, dia hidupkan kembali toko roti mati suri itu dengan “sedikit” bantuan dari “peri roti” yang cantik.

Huhmm…lalu apa yang perlu kukomentari tentang cerita ini?
Menurutku yang pertama adalah tanggung jawab. Kali ini kita bicara tentang tokoh utama, Tansen Roy Wuisan, si pria pantai itu. Dari keterikatannya dengan pantai, perlahan dia melihat bahwa persoalan “menghidupkan” kembali Madre bukan sekedar perkara antara dia dan Madre dan toko roti itu. Tansen yang semula menganggap warisannya bukan haknya, bukan seharusnya ada padanya. Dan karena “paksaan” dari Pak Hadi untuk melanjutkan usaha kakeknya, menjadi merasa sangat alergi di dekat warisannya itu. Madre baginya benda mati saja yang entah mengapa disorongkan padanya. Maka dia menerimanya dari Pak Hadi, dengan tekad membuangnya jauh-jauh supaya hidupnya tidak lagi terikat pada Madre, dia ingin kembali pada dunianya.
Namun kemudian, ketika telah dia siapkan segala hal “pembuangan” Madre, justru dia melihat betapa ada orang lain yang begitu terikatnya pada Madre, yang seolah Madre itu manusia hidup saja. Maka dia lalu membatalkan rencana penjualan Madre, bukan karena Madre adalah benda mati semata. Tapi juga karena para pegawai sepuh yang juga menjadi keluarganya seketika, tentang wasiat kakeknya terhadapnya, tentang harapan yang digantungkan padanya.

Yang kedua adalah tentang kesetiaan, loyalitas. Di sana diceritakan bagaimana pegawai-pegawai toko roti yang sepuh, mantan pegawai kakek-neneknya itu bekerja dengan tulus, menganggap yang mereka kerjakan bukan sekedar rutinitas, bukan keharusan, tapi bagai sebagian hidupnya yang seketika kembali menemukan ruh dan jiwa. Dengan senang mereka bekerja, layaknya sahabat sedari lama yang telah bertransformasi saling berkeluarga. Mereka terikat dengan Madre, juga toko roti itu. Mereka bekerja bukan sekedar untuk materi, bukan sekedar untuk mendapat uang. Melainkan seakan ada suatu kekuatan ikatan yang dengannya mereka bahagia, mereka hidup.

Ini semua akhirnya bermuara pada pemahaman kita tentang nilai. Katakanlah bahwa penggambaran sesuatu yang bernilai ini adalah Madre. Iya, Madre hanyalah biang ragi roti. Madre hanyalah benda mati. Tansen menganggapnya tak berarti, Pak Hadi dan para pekerja toko memperlakukannya seolah Madre adalah anggota keluarga, lebih-lebih Mei si “Fairy Bread” yang menghargai Madre sebagai sesuatu yang dapat mengembalikan kepercayaan keluarganya, menghapus rasa bersalahnya.

Ini semua akhirnya bermuara pada pemahaman kita tentang nilai. Coba sebut kata apa pun yang ada di benak…mengapa kata itu punya arti? Itu karena telah ada pemberian makna, akan benar-benar bermakna bila pengguna kata itu paham benar maknanya. Mbulet? Yeah! =_=a

*kumat*

Judul-judul karya fiksi dan prosa dalam Madre antara lain :
  • Madre (halaman 1)
  • Rimba Amniotik (halaman 73)
  • Perempuan dan Rahasia (halaman 76)
  • Ingatan tentang Kalian (halaman 78)
  • Have You Ever? (halaman 81)
  • Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan (halaman 100)
  • Wajah Telaga (halaman 104)
  • Tanyaku Pada Bambu (halaman 106)
  • 33 (halaman 109)
  • Guruji (halaman 111)
  • Percakapan di Sebuah Jembatan (halaman 123)
  • Menungu Layang-Layang (halaman 126)
  • Barangkali Cinta (halaman 159)

Rabu, 02 Januari 2013

Malaikat tanpa sayap : Tentang Cinta, Kematian, dan Pilihan



Malaikat tanpa sayap. Adalah judul film yang diangkat dari kumpulan cerita Dee (Dewi Lestari) di Rectoverso. Aku termasuk orang yang nonton film-nya dulu dan sampai detik aku tulis ini, aku belum baca bukunya. Nontonnya pun dari tayangan special tahun baruan di salah satu tivi nasional yang kebetulan “lebih suka” mempromosikan film-film Indonesia.
Diperankan oleh Adipati Dolken (Vino), Maudy Ayunda (Mura), juga ada Surya Saputra (Amir, bapaknya Vino), Ikang Fawzi (bapaknya Mura), Kinaryosih (Mirna, ibuknya Vino), Agus Kuncoro (Calo), Geccha Qheagaveta (Wina, adiknya Vino). Bercerita tentang Vino si anak SMA yang memilih keluar dari sekolahnya akibat kesulitan ekonomi keluarganya. Awalnya keluarga Vino ini kaya, sampai akhirnya oleh karena suatu sebab rumah keluarganya yang besar harus disita bank, mengontraklah mereka yang bayaran kontraknya pun menunggak. Ibu Vino tak tahan dengan keadaan itu kemudian pergi meninggalkan suami dan anak-anaknya. Vino sendiri punya hubungan yang kurang harmonis di keluarga ini, karena itu selama ini dia lebih suka di luar rumah dibanding memperhatikan keadaan keluarganya. Pun hubungan dengan bapak dan adiknya, tidak dekat. Sampai akhirnya terjadi musibah kepada Wina yang mengharuskan operasi atau kalau tidak kaki adiknya itu terpaksa harus diamputasi. Vino yang mulai merasa menjadi bagian dari keluarga yang dirundung kesulitan ini tergerak untuk menyelamatkan sang adik. Lalu bertemulah dia dengan seseorang yang menawarkan jalan keluar untuknya: Calo.
Di lain sisi, ada seorang Mura. Anak tunggal yang kini diasuh oleh orang tua tunggal, bapaknya. Ibunya sudah meninggal akibat penyakit. Mura pun menderita penyakit yang tidak sembarangan, penyakit jantung. Karena penyakitnya itulah dia sangat dijaga oleh bapaknya, karena itu dia homeschooling, karena itu dia bisa dibilang tidak punya banyak teman, eksistensinya terbatas pada dunia maya. Mura yang merasa harinya hanya menunggu takdir kematian datang seperti burung-burung yang tanpa jam selalu terbang di angkasa sore. "Kematian tahu waktunya," menurutnya. Mura yang tegar, yang tidak mau dikasihani karena penyakitnya, yang tidak mau dicintai hanya karena belas kasihan. Mura yang sakit rutin check up ke rumah sakit, terutama untuk menantikan adanya donor jantung yang dapat ditransplantasikan untuknya, memberikan harapan baru. Di sinilah kedua sisi itu bertemu, di rumah sakit. Vino dan Mura.
Otak Vino memutuskan untuk mengingat Mura sejak pertemuan pertama mereka. Otak Vino juga tak lupa akan kondisi adiknya dan mempertanyakan apa yang sudah dia perbuat untuk keluarganya. Teringatlah dia kepada calo setujulah dia menerima tawarannya: mendonorkan jantung yang diganjar dengan bayaran yang lebih dari cukup untuk sekedar mengoperasi kaki Wina. Vino merasa tugasnya jadi pahlawan berjalan…dengan mengorbankan dirinya.
Singkat cerita Wina berhasil dioperasi. Rumah yang disita bank dapat ditebus kembali. Vino semakin dekat dengan Mura walau dia belum tahu bahwa perempuan yang baru dikenal dan dicintainya itu sedang sekarat. Karena ketidaktahuan ini, Vino hampir-hampir saja mencelakakan Mura. Bapak Mura juga nyaris mempersalahkannya, kalau tidak segera dicegah oleh Mura yang lagi-lagi mengingatkan bapaknya bahwa Vino-lah yang mencintainya, bukan karena kasihan semata. “Embun tidak perlu mengubah dirinya untuk dapat dicintai daun,” begitu kata Vino kepada Mura.
Vino yang merasa hidupnya lebih berarti, kembali ragu pada niatnya mendonorkan jantung. Sama saja dengan bunuh diri atau kalau tidak, menjual dirinya sendiri. Vino yang ingin hidup lebih lama untuk bapaknya, untuk Wina, untuk Mura. Terombang-ambing dia ingin mengurungkan niatnya jadi pahlawan. Hingga…kenyataan terbuka di hadapannya bahwa Mura sedang sekarat karena penyakit jantung. Bahwa jantung yang akan didonorkannya adalah untuk Mura.
Di tengah kebimbangan Vino memilih untuk melanjutkan apa yang menjadi keputusannya, mendonorkan jantung. Namun sebelumnya dia ingin berbuat sesuatu untuk bapaknya dan untuk Mura, dia tulis juga “surat wasiat” untuk orang-orang terkasihnya. Setelah itu, dia temui calo untuk menuntaskan perjanjiannya. Sementara itu, Mura dan bapaknya segera bersiap berangkat ke Singapura untuk operasi transplantasi jantung. Mura masih saja menanyakan ketidakhadiran Vino.
Vino siap menghadapi maut di kamarnya. Obat yang akan mengantarkannya pada kematian sudah bertumpuk di tangannya layaknya permen saja. Berikutnya, tak sadar dirilah dia, tergeletak oleh tumpukan obat layaknya permen itu. Tak sadar pula Vino, di bagian lain dalam rumahnya, ibunya yang sudah lama pergi kembali mencoba membujuk Wina untuk ikut bersama meninggalkan bapak dan abangnya. Tak sudi Wina. Sang bapak membelanya, mencegah anak yang dikasihinya direbut mantan istri yang meninggalkan keluarganya. Bahkan tertembak si bapak oleh “pacar baru” istrinya.
Dua anggota keluarga yang sekarat, Vino dan bapaknya, dibawa ke rumah sakit oleh ambulans yang meraung-raung. Calo organ sudah menanti. Menanti jantung, layaknya makelar mobil yang sudah menemukan mobil keluaran terbaru untuk klien pemesannya. Tak disangka, tanpa sepengetahuan siapa pun, bapak Vino diam-diam sudah tahu wasiat Vino. Di tengah sekaratnya dia memohon menggantikan janji Vino untuk memberikan jantungnya.
Vino terselamatkan. Mura terselamatkan. Wina mendapat ayah baru yang bukan lagi sopir taksi, bapaknya Mura menjadi bapak Wina. Dan mereka hidup bersama sebagai keluarga baru.

Cerita yang terlalu sedih untuk menuju sebuah happy ending. Dan sekali lagi, dasar film ini adalah tulisan Dee. Dee yang juga penyanyi dari grup-nya RSD (Rida, Sita, Dewi), mencipta serta menyanyikan lagu untuk OST film ini, Malaikat Juga Tahu judulnya:

Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi
Karna tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu Aku kan jadi juaranya
[Lirik lagu Malaikat Juga Tahu - Dee]

Malaikat tanpa sayap. Semua ini menjadi perenungan tentang: cinta, kematian, dan pilihan.

Cinta
Apa yang kita cintai akan menjadi pusat, menjadi muara semua apa yang kita lakukan dan perjuangkan. Cinta lebih dari sekedar kata, cinta itu kata kerja yang menuntut perbuatan.
Cinta pada keluarga, berarti melakukan peran sebaik mungkin untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan, serta kehangatan keluarga. Menyadari bahwa satu sama lain saling membutuhkan, sebagai anak, saudara, bapak, ibu, punya porsi saling menyayangi dan menumbuhkan.
Cinta pada belahan jiwa, berarti menjaganya agar tak terluka, agar tak tergelincir. Kepada dan terhadapnya kita menjaga kehormatan diri, maka pada belahan jiwa ada kata yang istimewa dari Salim A. Fillah, “Kadang kau harus meneladani matahari. Ia cinta pada bumi; tapi ia mengerti; mendekat pada sang kekasih justru membinasakan.”
Cinta pada diri sendiri, bahwa sebenarnya bukan kita yang berhak atas jasad ini. Jasad yang ke mana-mana terbawa ini hanyalah titipan dari pemiliknya. Pemiliknya yang selalu memperhatikan ciptaanNya. Dialah yang sepenuhnya berhak atas jasad ini. Maka wajiblah kita menjaga titipan sebaik-baiknya hingga pemiliknya yang meminta kembali saat waktunya telah tiba, bukan kita yang lalu memutuskan mencukupkan waktu, memutuskan habisnya waktu atas diri sendiri.
Dan semua cinta itu tak boleh melebihi cinta kepada Allah dan RasulNya. Cinta pada Allah dan RasulNya juga kata kerja. Hatinya percaya, bahkan lebih dari percaya, yaitu yakin karena telah mengenalNya. Lisannya berucap, menegaskan kata hatinya dan akan selalu terucap. Badannya berbuat, di mana saja dan kapan saja setiap nafas berembus.

Kematian
Bahwa kematian adalah niscaya, maka tidak perlu ditakutkan atau dirisaukan. Pasti akan datang, tepat waktu, tak kurang, tak lebih di saat yang telah diizinkan oleh Allah. Itulah yang namanya takdir, yang diizinkan oleh Allah untuk terjadi.
Bahwa kemisteriusannya penuh hikmah, tugas yang masih hidup adalah menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk dibawa saat mati. Bekal itu adalah jejak kita di dunia: ilmu, amal, keturunan yang sholeh. Yang hidup boleh berharap sedalam-dalamnya agar kematiannya adalah sebaik-baiknya dan jejak kebaikannya sudah sebanyak-banyaknya.

Pilihan
Bahwa menjalani hidup berarti selalu dihadapkan pada pilihan-pilihan. Inilah proses sebelum hadirnya keputusan. Dalam cerita ini, Vino bukannya tak punya pilihan. Bisa saja dia tetap pada kelakuannya yang cuek, bisa saja di awal konflik keluarganya dia lari dari keluarganya. Atau di saat adiknya perlu operasi ketika tak ada lagi uang, bisa saja dia tak mengurungkan niatnya untuk bunuh diri lompat dari gedung. Atau saat calo mengejar-ngejarnya menagih janji dia bisa saja tak ambil pusing lalu lari membahagiakan dirinya. Tapi tidak! Jika seperti itu cerita dan film Malaikat tanpa sayap akan meninggalkan kesan yang berbeda, tentang anak broken home yang frustasi berakhir bunuh diri. Tidak, rupanya bukan itu yang ingin disampaikan. Vino memilih untuk bertindak seperti yang dikisahkan pada alur cerita.
Dari mana pilihan itu datang? Bagaimana bisa itu jadi keputusan? Itu karena ada nilai-nilai dalam diri kita. Nilai-nilai moral, antara baik dan buruk. Antara yang benar atau salah. Maka kita selalu diingatkan untuk melatih kepekaan agar setiap pilihan kita adalah pilihan yang baik dan benar.
Maka janganlah katakan kita tak punya pilihan. Bukan! Bukan begitu. Kita selalu punya pilihan. Bahkan “tidak” juga suatu pilihan. Yang harus kita sadari adalah setiap pilihan punya konsekuensi. Dan sebelum memilih, selayaknyalah kita sudah siap dengan konsekuensi itu.

Malaikat tanpa sayap. Ya! Di sekitar kita banyak malaikat tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan. Dianya yang dimaksud bukanlah makhluk Tuhan yang tak memiliki nafsu, hanya berakal, dan selalu bertasbih kepada Tuhannya itu. Bukan! Bukan mereka. Malaikat tanpa sayap tak jauh dari sekeliling kita. Merekalah siapa saja para penolong yang tulus membantu dan tulus mencinta. Mereka menyerupa seolah malaikat yang turun ke dunia. Mereka ada di mana-mana, terkadang tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan. Mari kita rindu bertemu mereka, maka beruntunglah kita di saat dapat membersamai mereka. Mungkin saja kita bisa berkesempatan menjadi malaikat tanpa sayap bagi mereka? :)
Wallahu alam…